Prolog…
Apakah
aku masih bisa merasakan perasaan mencintai lagi…? Apakah aku bisa lepas dari
bayang-bayang masa lalu yang begitu pahit dan kelam..? orang yang paling aku
nantikan cintanya akan bersambut denganku, ternyata lebih mencintai orang lain
dari pada ku…? Pantaskah aku masih
mengharapkannya..? tidak adakah sedikit cinta di hatinya yang bisa ia bagi
untuk hatiku yang mengharapkannya….. haruskah aku terus berkubang dalam cinta
yang kelabu dan semu..?
Bagian 2
Tidak
mudah bagi Narang untuk melepaskan kenangannya tentang Nuni. Padahal sudah tiga
bulan, ia berusaha untuk melupakan gadis itu, tapi entah mengapa hatinya terus
saja mengharapkan gadis itu. Karena tidak ingin terus larut dalam kesedihan
karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, Ia memutuskan untuk mengikuti saran
sahabatnya Ken, dengan berlibur ke kampung halaman istrinya Saskia. Ken kasihan
melihat Narang yang sedang sedih karena patah hati. Menurut Ken sakit hati yang
dirasakan Narang pasti sangat sakit. Bagaimana tidak…. Yah sudahlah lagipula
Narang harus bangkit dan menatap hidupnya ke depan ia tidak bisa terus-terusan
terpuruk.
Tempat
tinngal Saskia sangat indah dan tenang. Narang merasa sedikit terhibur bisa
datang ke tempat itu. Ia bersyukur mempunyai sahabat sebaik Ken. Yang lebih
membuat Narang bahagia ia bisa melihat Ken dengan Saskia sangat senang bisa
pulang ke tempat ini. Jujur Narang iri melihat kebersamaan pasangan suami istri
itu. Mungkin belum saatnya ia bisa bahagia dengan orang yang bisa membahagiakannya
juga. Tanpa Narang sadari belakangan ini sudah bisa tersenyum lagi, selama
tinggal di tempat ini, dirinya merasa Ken pasti sedang mengejeknya saat ini,
dengan menunjukkan kebersamaanya dengan istrinya di depannya.
Narang hanya tersenyum melihat
itu sambil duduk seorang diri di bawah pohon besar dan rindang, sambil melihat
pemandangan alam yang indah. Tuhan benar-benar menciptakan sebuah mahakarya
yang sangat menakjubkan. Mungkin lebih baik ia mencintai alam semesta saja,
yang mungkin tidak akan meninggalkannya atau menolaknya, ujar Narang dalam hati
sambil tersenyum.
Entah mimpi atau nyata Narang
melihat sosok Ibunya sedang melihatnya dari jauh sambil tersenyum padanya. Tanpa
pikir panjang Narang bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ibunya itu.
Ibunya sedang berdiri di pinggir danau, seperti biasa wanita itu terlihat
cantik. Narang mengucek-ucek matanya, menepuk-nepuk pipinya menyadarkan dirinya
apakah yang ia lihat itu nyata atau tidak. Narang telah berdiri di depan sosok
itu, wajahnya benar-benar terkejut melihat itu. Mungkin ini hanya ilusinya saja
yang terlalu merindukan ibunya. Sampai-sampai berkhayal seperti itu… dengan
tatapan tak percaya matanya tertuju pada bayangan ibunya. Ken yang paham apa
yang terjadi pada sahabatnya, langsung berlari kearah Narang yang seakan tidak
mendengar apa-apa lagi, termasuk teriakan Ken saat memanggil namanya.
“Narang…..!!” teriak Ken sembari menarik pundak
Narang dan menghempaskannya ke tanah. Sontak saja Narang tersadar dan terkejut.
“Apa yang terjadi padamu!” bentak Ken sambil
menampar Narang dengan keras.
Tentu saja membuat Saskia
terkejut dan langsung menenangkan Ken dan membantu Narang berdiri. Ken langsung
menarik kerah baju Narang. Hampir saja Narang terjatuh, untung saja Ken menahan
tubuhnya. Kepalanya terasa pusing, dunia seolah runtuh dan menimpa dirinya.
“Ken… tenanglah aku tidak apa-apa…” Ujar Narang, menenangkan
Ken yang terlihat panik. Ken berusaha menjernihkan pikirannya sambil menatap
sahabatnya.
“Lalu mengapa kamu berjalan kearah danau sampai
tidak mendengar saat aku memanggilmu?” ujar Ken dengan tenang.
“Aku pernah
cerita, Saskia hampir meninggal di danau itu karena dia melihat bayangan anakku
yang meninggal. Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi” Ujar Ken dengan suara
yang bergetar.
Narang menatap danau itu, hampir saja tadi ia
kehilangan nyawanya. Dan membuat semua orang kesusahan karena dirinya. Terlebih
Saskia terlihat sedih dan masih terus menenangkan Ken.
“Aku gak tahu kenapa aku kesana, aku minta maaf
telah membuat kalian khawatir.” Ujar Narang sambil menatap Ken dan Saskia
sambil tersenyum kelu.
Tak ingin berlama-lama di danau,
Ken dan Saskia pulang kembali ke rumah orang tua Saskia dan meninggalkan danau
itu. Sepanjang perjalanan, Narang larut dalam perasaanya sendiri, apa arti
bayangan ibunya itu muncul lagi…? Kejadian itu mengingatkannya pada Nuni.
Mendadak dadanya terasa sakit, ia bingung dengan dirinya, mengapa harus selalu
teringat akan gadis yang telah memberikannya luka sedalam itu padanya. Karena
merasa khawatir, Ken bertanya tentang apa yang ia lihat tadi di danau, bayangan
siapakah yang dilihatnya sampai sebingung itu di depan danau tadi.
“Apa kau baik-baik saja? Hmm ngomong-ngomong bayangan
siapa yang kamu lihat tadi..?” tanya Ken dengan hati-hati.
Entah apa yang harus ia jawab. Semuanya terlalu
rumit untuk dirinya saat ini. “Ibuku…..” jawab Narang pelan sambil mengusap
wajahnya.
Ken tersentak mendengar jawaban Narang. Pantas saja
raut wajahnya seperti itu. Ken menghela napasnya, ia merasa bersalah karena
sudah mengajak Narang ke danau itu.
“Maaf tak memberitahumu terlebih dahulu, aku kira
kau akan baikan karena pemandangan disana sangat bagus, dan tenang.” Ujar Ken
dengan getir.
“Kau tak salah Ken, pemandangan disana sangat
bagus, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan apakah itu nyata atau tidak.”
Ujar Narang lemas.
Mereka semua terdiam entah apa yang terjadi. Ken
juga bingung mengapa hal tersebut bisa menimpa Narang.
“Kau bilang Saskia pernah hampir meningga karena
melihat anak kalian disana?”
“Iya, makanya tadi aku sangat takut melihatmu
berjalan kearah danau itu.” jawab Ken sambil menatap Saskia.
“Berarti ada kemungkinan Ibuku juga sudah meninggal
dunia.” Ucap Narang sambil menatap langit yang kelabu, seperti hatinya saat
ini.
“Narang aku…”
“Aku sudah terbiasa ditinggalkan oleh orang yang
kusayangi, jadi kau tak usah merasa bersalah padaku Ken. Malah aku berterima
kasih padamu, setidaknya aku masih bisa melihatnya walaupun tidak nyata.” Jelas
Narang, sambil menepuk pundak Ken. Yang tidak bisa menyembunyikan rasa
khawatirnya.
Narang ikut serta membantu
persiapan acara nanti malam itu, walaupun Ken melarangnya, tapi Narang tetap
keukeh dan membantu juga. Narang sudah sangat dekat dengan keluarga ini, bisa
dibilang seperti keluarga keduanya. Seluruh keluarga Ken juga sudah tahu bahwa
ia masih keturunan kerajaan, dan juga saudara dari Badai. Tapi Narang meminta
mereka untuk merahasiakan tentang statusnya itu. Karena Narang masih belum siap
untuk kembali lagi ke kerajaan. Selain itu juga mereka harus memperlakukannya
biasa saja tanpa penghormatan atau apapun itu yang menurut Narang sangat
membosankan.
Sampai
saat ini Ken dan keluarganya kagum dengan Narang, yang bisa bertahan hidup
meskipun tidak menjadi bagian dari kerajaan, kejadian masa lalu itu sangat
membuatnya ingin keluar dari kerajaan dan hidup seperti orang biasa. Ia lebih
suka hidup bebas tanpa aturan daripada harus terkekang dan terkurung. Ayah Ken
yang sedang melihat Narang mengangkat meja dan kursi, tersenyum juga sedikit
sedih melihat semua perjalanan hidupnya. Lelaki sebaik dia masih juga kecewakan
dan ditinggalkan oleh beberapa orang. Sejak ia keluar dari kerajaan dan bertemu
dengan Ken saat itu ia sudah menganggap Narang seperti anaknya sendiri, apalagi
setelah ibunya pergi dan meninggalkannya sendirian. Entah mengapa dirinya dan
istrinya sangat menyayangi Narang tidak berbeda dengan Ken. Setelah semua
persiapan selesai, Rama mengapit tangan Narang dan mengajaknya berkeliling-keliling.
Narang
terkejut dan tertawa melihat tingkah laki-laki paruh baya itu, yang sudah ia
anggap seperti ayahnya sendiri. Tiba-tiba Rama memeluk Narang sambil
menepuk-nepuk punggungnya. Narang terdiam dalam pelukan hangat laki-laki itu,
ia merasa bahagia diperlakukan seperti itu. Ken, Saskia, dan ibunya dan orang
tua Saskia tersenyum melihat pemandangan itu. Rama memang sangat baik, dan
penyayang. Ken memeluk Saskia dan Ibunya melihat tindakan ayahnya. Rama
melepaskan pelukannya dan menepuk kedua pipi Narang seperti dulu ketika Narang
dan Ken masih kecil. Narang hanya bisa tertawa…
“Apa kabar Teguh?” Tanya Rama sambil tertawa
melihat wajah Narang, yang terlihat sangat lucu.
“Kabar baik Romo.” ujar Narang sambil tertawa juga.
Saat ini dirinya sangat bahagia, jarang-jarang ia mendapatkan perlakuan seperti
ini. terlebih Ayahnya yang jarang memperlakukannya seperti ini.
“Romo, sudah jangan tambah membuat wajah Narang
seperti itu.” ujar Ken sambil tertawa.
Tidak bisa di elakan lagi mereka semua tertawa
terbahak-bahak melihat wajah Narang, yang sepertinya kesakitan.
Malam
yang dinanti akhirnya datang juga, halaman yang menjadi tempat acara untuk Ken
dan Saskia, itu sangat indah dengan hiasi lampu warna-warni dan dekorasi yang
unik, seperti keunikan kedua pasangan suami istri itu. Semua orang datang
memberikan selamat pada Ken dan Saskia yang tampak seperti raja dan ratu sehari
lagi. Sementara itu Narang sedang melihat penampilanya di depan kaca, malam ini
ia begitu tampan dengan setelan jas yang dikenakannya itu. Tapi entah mengapa
dadanya terasa kosong.
Tiba-tiba pintunya diketuk dari
luar, Narang bergegas membukakan pintu, betapa terkejutnya ia melihat sosok
gadis berdiri di depan kamarnya dengan menggunakan gaun berwarna cokelat muda.
Narang seperti pernah melihat gadis ini, ia merasa tidak asing dengannya.
Sementara gadis itu juga terpana dengan laki-laki tampan yang ada didepannya
saat ini. Karena merasa wajahnya terasa panas ia mengalihkan pandangannya.
“Hmm,,, Romo, menyuruh saya menyerahkan ini.” ujar
gadis itu sambil menyerahkan sesuatu kepada Narang. Narang mengambilnya sambil
terus memandang gadis itu. Sepertinya ia pernah bertemu dengan gadis ini, tapi
entah dimana. Tak ingin berlama-lama akhirnya gadis itupun pergi. Narang memeriksa
isi bingkisan dari gadis misterius tadi. Ternyata isinya dasi ia pun langsung
memakai dasi tersebut tak ingin membuat Romo kecewa.
Tiba-tiba ia mendengar keributan
di tengah pesta. Narang langsung pergi ke sumber suara itu, betapa terkejutnya
ia mendapatkan beberapa gadis sedang terlibat perkelahian sengit, tak ayal lagi
Narang langsung memisahkan gadis-gadis itu, bukannya malah berhenti,
gadis-gadis itu malah memukuli Narang, untung saja Ken datang membantu
memisahkan gadis-gadis itu. Narang berusaha memisahkan mereka tapi, mereka
sangat kuat. Karena merasa belum puas gadis yang di tahan oleh Ken dengan cepat
mengambil botol minuman dan melemparkannya pada gadis yang tadi ditahan oleh
Narang, dengan cepat Narang melindungi gadis itu, tentu saja botol minuman itu mengenai
kepalanya. Seluruh tamu yang datang terkejut dengan insiden itu. Gadis yang
satunya terkejut telah melemparkan botol itu malah mengenai Narang.
Narang melihat gadis yang ada
dalam dekapannya itu, ternyata gadis yang memberikannya dasi. Ia tersenyum
melihat gadis itu, dengan darah yang mengalir dari kepalanya dan pingsan. Gadis
itu menahan tubuhnya, wajahnya panik melihat Narang yang tidak sadarkan diri.
Ken yang melihat itu dengan cepat meminta bantuan dan membopong tubuh Narang ke
dalam rumah. Untung saja Saskia yang berprofesi sebagai dokter langsung
mengobati luka Narang yang terlihat serius. Saskia menyuruh semua orang keluar
dari kliniknya karena ia akan mengobati Narang. Ternyata sebelum lukanya
diobati Narang sudah terlebih dulu sadar dan bagun dari tidurnya.
“Saskia..” Desah Narang lemah. Saskia terkejut
melihat Narang yang sudah tersadar. Wajahnya pucat. Bajunya bukan lagi berwarna
putih, tapi sudah berganti warna menjadi merah.
“Narang, aku perlu periksa luka kamu dulu,” ujar
Saskia sambil memeriksa kepala Narang, ternyata luka di kulit kepalanya agak
luas mengenai pembuluh darahnya. Pantas saja banyak sekali darah yang keluar,
kalau begini lukanya harus dijahit. Saskia segera bergegas mengambil peralatan
jahitnya.
“Lukamu cukup luas, aku akan menjahitnya.” ujar
Narang. Saskia mengangguk sambil membersihkan lukanya dengan alkohol. Narang
meringis kesakitan.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Saskia
“Lanjutin aja Sas,” tukas Narang sambil
tersenyum. Lagipula ia pernah mengalami
luka yang lebih parah dari ini.
“Gadis itu bagaimana?” tanya Narang merasa khawatir
dengan gadis tadi.
“Hmmm…mungkin sedang di marahi Ken.” Ujar Saskia
pelan
“Ha? memangnya siapa sih gadis itu?” ujar Narang
sambil meringis lagi.
Saskia berhenti menjahit luka Narang, sembari memandang
Narang dengan terheran-heran. Setelah itu ia memegang jidat Narang. tentu saja
ia heran melihat tindakan Saskia padanya.
“Kamu benar-benar tidak ingat yah?” tanya Saskia
sambil melipat kedua tangannya.
Narang yang bingung langsung menggaruk-garuk kepalanya,
tapi tersadar dan meringis kesakitan.
“Nggak.” jawaban super pendek dari Narang dengan
wajah datar. Saskia hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu, dan
segera menutup lukanya dengan perban dan mengantar Narang keluar dari klinik.
Ken yang menunggu lega melihat Narang yang ternyata sudah sadar.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Ken sambil memandang
Narang.
“Ya sakitlah. Tadi siang kena tampar, sekarang mana
kena botol.” jawab Narang dengan kesal. Saskia langsung memukul jidat Narang
dan berlalu dari mereka berdua sambil tertawa.
“S A S K I A….!!!!” teriak keduanya bersamaan.
Di ruang tamu sudah ada Rama dan
Lestari sedang duduk berhadapan dengan kedua gadis yang tadi berkelahi sehingga
membuat Narang terluka. Alangkah terkejutnya Narang melihat gadis yang ia
selamatkan tadi, sedang dimarahi oleh Ayahnya Ken. Narang hanya bisa terdiam,
mellihat yang sedang terjadi. Narang melihat gadis itu hanya bisa tertunduk
dalam-dalam dan takut.
Narang tersenyum kecut melihat
gadis itu. Saskia yang melihat Narang mencubit perut Narang. Lelaki itu hanya
bisa meringis kesakitan.
“Apa kalian akan melakukan hal-hal yang tidak
terpuji seperti itu lagi?” tanya Rama dengan suaranya yang berwibawa. Narang
yakin kalau kedua gadis itu pasti sangat ketakutan sekarang. Dulu Narang dan
Ken juga pernah ada diposisi itu.
“Tidak akan lagi Romo,” sahut mereka berdua
bersamaan. Rama memandang kedua gadis itu lekat-lekat, sambil geleng-geleng
kepala.
“Apa permasalahan sehingga kalian bertengkar?”
tanya Rama lagi
Karena takut dimarahi lagi, akhirnya gadis yang
satunya berbicara.
“Itu karena… Kirana berusaha merebut pacarku.” Ujar
Vanya dengan tatapan kesal.
Narang tersentak mendengar nama Kirana. Pantas saja
gadis itu tidak asing baginya.
Ia menatap Saskia yang duduk disampingnya.
“Kirana…?” ujar Narang tidak percaya. Saskia hanya
manggut-manggut menjawab Narang.
“Pacar?” Rama benar-benar tidak habis pikir dengan
yang sudah terjadi.
“Apa yang sebenarnya terjadi Kirana!!” Bentak Rama
yang tak habis pikir dengan tingkah laku gadis-gadis ini. Membuat tekanan
darahnya perlahan naik. Ken berusaha menahan amarahnya, ia ingin sekali
memberikan pelajaran bagi pada kedua gadis-gadis ini. Karena merekalah acaranya
malam ini berantakan. Ditambah lagi seseorang terluka.
“Cepat minta maaf.” Ujar Narang sambil memandang
Kirana, yang terheran-heran melihat Narang. Karena takut, akhirnya Kirana
meminta maaf pada Vanya dan berjanji tak akan melakukan itu lagi.
“Aku minta maaf, pada semuanya Romo, Ibu, Kakak. Semuanya
karena keributan ini terjadi karena hal yang tidak penting.” Ujar Kirana dengan
sungguh-sungguh.
“Kau juga minta maaf.” Sambil menunjuk Vanya.
“Kalau tidak aku akan melaporkanmu kepolisi.” Ancam Narang.
“Kau yang datang mengacaukan acara Ken, menyerang
Kirana, dan melukai kepalaku. Hmm kalau dihitung-hitung kau akan mendekam
dipenjara sekitar 5 tahun ah bahkan lebih. Aku juga tak tau apakah kau sanggup
membayar dendanya.” Lanjut Narang sambil tersenyum mengejek.
Vanya terdiam, dia Nampak ketakutan mendengar
ucapan Narang. Semua itu sangat masuk akal. Dirinya bisa-bisa mendekam
dipenjara malam ini.
“Kalau kau tak mau ayahmu datang kesini, pergilah
sekarang juga.” Bisik Narang
“Sss. Sa. Saya minta maaf atas perbuatan saya. Saya
tidak akan melakukan hal itu lagi.
“Jangan pernah ganggu Kirana lagi, atau kau akan
berusan denganku.” Bisik Narang sontak membuat Vanya lari ketakutan menuju
mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kirana
masuk ke dalam rumah disusul oleh Saskia dan juga Ibu Ken. Narang merasa sangat
lelah hari ini. Terlalu banyak yang terjadi kejadian di danau, kepalanya yang
terluka. Ia merasa khawatir pada Romo yang nampaknya sangat terpukul dengan
kejadian tadi.
“Romo tidak apa-apa?” Tanya Narang sambil
membawakan obat kedalam kamar.
“Pasti bohong kalau Romo baik-baik saja. Romo hanya
terkejut dengan yang terjadi pada Kirana. Anak itu ternyata mengalami hal
mengerikan itu. dibenci, difitnah, bahkan hampir terluka.” Jawab Romo gusar.
Narang menenangkan Lelaki itu.
“Romo sesekali luangkan waktu Romo bersama Kirana,
mungkin Kirana rindu pada Romo.” Ujar Narang sambil keluar dari kamar
membiarkan Ayah angkatnya itu beristirahat.
Gadis
itu adalah Kirana, Narang tertawa sendiri dengan yang sudah terjadi hari ini. Kepalanya
yang terluka. Kirana sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan manis. Pantasan
saja Saskia memukulnya tadi. Bisa-bisanya dirinya lupa pada adik kandung dari
Ken.
Narang terkejut melihat Kirana
yang sedang berjalan ke arahnya. Kirana berdiri diam terpaku dihadapan Narang.
Suaranya mendadak hilang, bibirnya terkatup rapat, lidahnya kelu. Banyak sekali
yang ingin ia sampaikan pada Narang tapi mengapa tak bisa ia utarakan? Narang
tersenyum, sembari memeluk gadis yang terpaku dihadapannya itu sambil menepuk
pundak Kirana.
“Apa kabar Kirana?” Tanya Narang sambil tersenyum.
Kirana mendadak menjadi batu terdiam dalam pelukan Narang. Semua rasa yang ada
menjadi satu. Bahagia, sedih, kecewa… entah mengapa air mata Kirana menetes. Ia
terisak dalam pelukan Narang. Ia sangat bersyukur Narang menolongnya dan
membantunya keluar dari penderitaanya. Tangisan Kirana pecah, ia sudah tak bisa
menahan lagi kesedihan, kecemasan yang ia rasakan. Ketakutannya mengapa ia
harus merasakan kehidupan kejam seperti itu.
Tak seorangpun yang tahu, bahwa
gadis ini telah menerima perlakuan yang tidak pantas oleh teman-temannya.
Semuanya melihat Kirana sebagai gadis pembawa onar dan tidak mau mendengarkan
orang tua, padahal dirinya telah berada dalam masalah besar. Narang melepaskan
pelukan Kirana sambil mengusap air matanya. membawa Kirana kedalam rumah, Ken
langsung memeluk adiknya itu erat-erat. Ia merasa bersalah tidak mengetahui
penderitaan adiknya itu. Narang teruduk lesu, Ken selama ini selalu bersama
dirinya, sampai melupakan adiknya sendiri. Ia merasa bersalah dan tidak enak
hati pada keluarga Ken. Ia hanya tidak ingin Kirana bernasib sama dengan
dirinya. Biarkan nasib buruk yang terjadi pada Kirana malam ini akan
tergantikan dengan hari cerah esok hari.
Narang
menikmati suasana pagi hari dengan berbaring di rerumputan sambil menatap
betapa birunya langit dan sinar matahari yang menyilaukan mata. Ia berharap
hidupnya sama dengan langit itu. Begitu terang tanpa ada yang meghalangi.
Narang terkejut pipinya terasa dingin, ternyata
Kirana menempelkan minuman dingin. Narang tersenyum melihat Kirana, sambari
bangun dan duduk di dekat Kirana.
“Makasih.” Ujar Narang sambil membuka minumannya
lalu memberikannya pada Kirana. Kirana tersenyum pada Narang. Lelaki itu
tertawa melihat tingkah usil gadis itu padanya. Duduk berdua dengan Kirana
adalah hal yang sama sekali Narang pikirkan. Tapi mungkin ia perlu merasakan
hangatnya matahari dan langit yang indah walau sekali dalam hidupnya.
“Darimana kakak tau kalau aku tak bersalah?” Tanya
Kirana sambil menatap Narang
“Mana mungkin gadis seperti kamu, merebut pacar
orang lain sementara kau Cuma dekat dengan buku pelajaran dan perpustakaan?”
jawab Narang sambil meminum minumannya. Kirana terkejut dengan jawaban Narang.
Dari mana ia tahu tentang kebiasaanya yang selalu menyendiri di perpustakaan.
“Kalau kamu punya masalah, jangan simpan sendiri.
Kamu punya kakak, ayah, ibu. Setidaknya kamu nggak sendirian.” Ujar Narang
sembari berdiri. Kirana memegang tangan Narang erat-erat.
“Aku benar-benar berterimakasih sama kakak. Aku gak
tau harus gimana semalam kalau gak ada…”
“Jangan berpikiran seperti itu. Kamu harus bisa
melawan orang yang mau menjatuhkanmu dengan kekuatanmu. Selemah apapun kamu,
kau harus bisa menyelamatkan dirimu sendiri paham?” Jelas Narang sambil
mengusap kepala Kirana dengan lembut. Kirana langsung memeluk Narang dengan
sangat bahagia. Ia bersyukur bisa mengenal lelaki sebaik Narang. Lelaki ini
bahkan mampu membuatnya kuat dan mencoba melawan ketakutannya terhadap orang
lain. Kirana melepaskan pelukannya sambil menatap Narang.
“Semoga kakak bisa cepat bahagia.” Ujar Kirana
meninggalkan Narang yang diam terpaku mendengarkan kata-kata Kirana. “Bahagia?”
apakah bisa aku bahagia.
Malam
ini akan ada pertemuan yang di adakan di rumah Romo. Badai juga akan datang. Roma
sendiri yang mengatakan kepada Narang tidak keluar kemana-mana pada saat
pertemuan nanti berlangsung. Narang tersenyum mendengar itu, ini adalah
kesempatan yang bagus. Ini merupakan jalan untuk masuk ke kerajaan dengan
mudah. Pasti mereka akan membahas siapa dari keluarga Sri Sultan Rama III yang
akan diutus untuk mengabdi di kerajaan. Pasti lelaki paruh baya itu akan
mengirim dirinya sendiri. Yang jelas-jelas bukan anggota keluarganya yang
memang sangat menonjol dibandingkan dengan anak kandungnya. Narang sangat
senang mendengar kabar kedatangan Badai. Sementara Ken merasa khwatir atas
rencana Narang ini.
Berkat Ken ia bisa masuk kembali
ke kerajaan dengan mudah. Narang masih harus memainkan perannya sedikit lagi.
Ia rela harus melakukan apapun yang penting dirinya bisa masuk ke istana lagi.
Misi yang ia simpan selama bertahun-tahun harus berhasil, dan tentu saja pasti
berhasil. Narang sudah tahu bagaimana sifat dan tabiat Sri Sultan Rama III itu.
Lelaki itu tidak akan pernah mengirimkan anak kandungnya ke kerajaan.
Sampailah
pada saatnya pertemuan itu dilakukan dan tentunya sangat tertutup. Tapi Narang
sudah mengetahui tujuan mereka melakukan pertemuan malam ini. Narang dilarang
untuk keluar, Sri Rama takut jikalau kehadiran Narang diketahui oleh pihak
istana maka semua rencaya yang sudah disiapkan akan hancur berantakan.
Jalan yang paling cepat adalah
melalui pemimpin-pemimpin di daerah, ternyata dugaan Jendral Bimantoro terbukti.
Tahun ini pemerintah akan melakukan cara yang berbeda dalam mencari anggota
yang baru. Mereka berdua menunggu dengan cemas. Pasti rapat itu berlangsung
alot dan sengit semua orang yang datang tadi adalah kaki tangan Raja yang
berkuasa. Dan orang-orang itu adalah orang yang paling licik dan berbahaya,
lewat mereka kekuasaan Raja Dwipa Mahardika Kusuma bisa tetap awet sampai
sekarang. Entah sudah berapa banyak harta kekayaan yang mereka timbun
bertahun-tahun dengan memanfaatkan, uang-uang rakyat yang susah payah mereka
kumpulkan dari pagi hingga malam tiada hentinya bekerja.
Hidupnya
dipertaruhkan untuk ini. Seberat apapun resikonya nanti ia tidak akan mundur
sedikitpun. Tidak lama kemudian, semua orang telah keluar dan bergegas kembali
ke tempat mereka masing-masing. Tak lupa Badai menyampaikan sesuatu pada Ken
juga ayahnya, tentunya itu sangat penting adanya.
Setelah pertemuan rahasia itu
berakhir akhirnya Narang keluar dari persembunyiannya dan duduk dihadapan Sri
Sultan Rama III, wajah Ken terlihat sangat serius. Ia sudah lama mengenal kedua
sosok itu. Para wanita, hanya bisa diam dan mendengarkan. Narang sangat tenang
mendengarkan keputusan ayah angkatnya.
“Seperti yang kita rencanakan, kerajaan ingin salah
satu dari keluarga kita harus masuk istana secepatnya.” Jelas Romo dengan
tenang. Sambil melirik Narang yang duduk dihadapanya.
Raut wajah Narang sangat tenang seolah sudah
menunggu kesempatan yang tepat.
“Kau tau sendiri seharusnya Ken yang pergi ke
istana tapi aku tidak akan mengizinkanya. Saskia sedang mengandung.” Jelas Romo
lagi dengan berat hati.
“Tenang saja Romo aku tidak akan mengingkari
janjiku pada kalian.” Ujar Narang sambil
melirik Saskia. Semuanya terdiam mendengar perkataan Narang. Kirana menatap
Narang seakan tidak percaya dengan keputusan lelaki itu. Apa itu artinya Narang
akan mengulang kenangan masa kecilnya yang sangat kelabu.
Sri Rama, hanya bisa memandang Narang dengan penuh
penyesalan yang dalam. Akhirnya rencana yang Narang tunggu sejak lama akhirnya
berhasil. Kerjaan tidak akan menyadari statusnya yang sebenarnya. Karena ia
menjadi anak angkat dari Sri Rama jadi tidak akan ada yang menyadari siapa
Narang yang sebenarnya. Sejak umur 7 tahun ia berhasil melarikan diri dari
kejamnya istana saat itu.
“Hanya ini keputusan yang bisa Romo ambil, semoga
kau berhasil disana.” Ujar Romo sambil menyerahkan surat perintah dari Raja.
Karena tidak tega Sri Rama pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangannya.
Sambil menatap surat itu dada nya merasa sakit entah mengapa walaupun mendengar
nama Istana sudah membuatnya muak dan marah. Tidak pernah satu haripun ia merasa
hidupnya tenang.
Saat
ini Narang tidak boleh terpengaruh pada hal apapun sesuai dengan perintah Jendral
Bimantoro ia harus mampu menahan semua keinginannya sampai semuanya tercapai
demi kepentingan bersama. Keesokan harinya Narang bersiap berangkat yang sedang
memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Dia tidak akan membuat dirinya mencolok
dia tidak ingin dicurigai di hari pertamanya. Kirana mengetuk pintu kamarnya
sambil membawa roti sandwich dan juga kopi susu hangat. Narang tersenyum sambil
menghampiri Kirana dan mengambil sarapan itu dan meletakannya di meja.
“Makasih.” Ujar Narang sambil memakan sarapannya
dengan lahap.
“Perlu aku bantu kak?” Tanya Kirana sambil melipat
kemeja Narang yang masih berserakan diatas kasur.
“Apa tidak merepotkanmu?” Tanya Narang sembari
bergegas merapikan kopernya.
Keduanya terdiam sibuk mengerjakan pekerjaan
masing-masing. Narang melihat buku kesukaanya, sembari melihat Kirana.
“Ini buat kamu.” Sambil menyodorkan buku pada
Kirana. Kirana terkejut melihat judul buku itu. Janganlah menyerah pada mimpimu! Sontak saja Kirana tersenyum.
“Apakah buku ini tidak terlalu kontras untuk kakak
baca?” Ujar Kirana
“Akupun tidak tau apakah aku harus menyerah ataukah
melanjutkannya. Tapi kalau kamu, pasti nggak akan menyerahkan?” Gurau Narang
sambil mengelus kepala Kirana. Sesaat mata mereka bertemu. Selalu saja mengapa
dada Kirana bergetar dihadapan lelaki ini, ingin sekali rasanya ia meraiknya
keluar dari dendam dan masa lalunya lalu hidup bersama tanpa dendam ataupun
ambisi. Tapi mana mungkin lelaki ini tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu
sekarang.
“Oke sudah selesai semua. Makasih ya.” Ujar Narang
sambil mengangkat kopernya bersiap-siap pergi ke istana.
Lestari
memeluk Narang erat-erat, ia sebenarnya berat hati harus membiarkan Narang
pergi tapi ini adalah keputusannya juga. Saskia memakaikan sweater pada Narang.
“Ngapain repot-repot Sas?” ujar Narang sambil masuk
kedalam mobil.
“Jangan sampai sakit.” Ujar Saskia sambil tersenyum
lalu menutup pintu mobil.
Sekarang semuanya akan berubah
atau tidak itu tergantung usaha para tim untuk memasuki istana. Mulai sekarang
semuanya tidak akan mudah maka dari itu tidak ada waktu untuk dirinya menjadi
lemah. Ia juga tidak ingin merebut istana memuakkan itu hanya saja ia terlalu
membenci sifat para manusia penghuni istana yang bertingkah seperti binatang.
Narang terkejut melihat sepucuk kertas di dalam saku sweater yang diserahkan
Saskia tadi.
Jikalau musim
bisa berganti dan daun bisa berguguran.
Aku harap
hatimu juga bisa berganti.
Kirana.
Narang terpaku dengan kata-kata
Kirana. Ternyata gadis itu bisa memahami hatinya yang sebenarnya. Dirinya juga
menginginkannya tapi merasa belum pantas. Dia bahkan belum tahu bagaimana
mengatasi semua yang ia rasakan dan alami. Ia masih harus berkerja keras
mengobati semuanya. Ia genggam erat-erat surat dari Kirana, entah mengapa gadis
itu perlahan menyeruak dalam hatinya yang benar-benar sudah tidak ada rupa dan
hawa. Jika gadis sebaik dia mampu memahaminya mengapa dirinya sendiri tidak?
Apakah ini karena Istana? Ibunya? Nuni? Ingin sekali ia lepas dari itu semuanya
dan pergi jauh ketempat dimana ia bisa menyembuhkan lukanya dan entah dengan
siapa dia menyembuhkan lukanya itu.
To Be
Continued…..