Tampilkan postingan dengan label Cerita karangan Ynof. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita karangan Ynof. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2024

Langit Biru

Langit Biru

Ynofilicious 

    Hari ini, merupakan hari yang terasa sama saja seperti hari-hariku kemarin. Tidak ada yang berbeda. Roda kehidupanku seperti tidak memberikan ruang baru untuk kulalui. Ku tatap langit biru di sore hari yang menarikku untuk menatapnya. Cantik, hangat, nyaman. Apakah hidup memang seperti ini? Ataukah ada hal yang lain selain ini? Mari berpikir positif dan kuatkan diri menjalaninya. Ku kayuh sepedaku pulang menuju rumah kecilku di dekat sungai yang merupakan tempat terbaikku bersembunyi dan memulihkan diriku setelah menjalani hari-hari yang berat. Aku harus berusaha melewati ini sendiri, karena hanya aku yang harus ada untuk diriku sendiri.

    Burung-burung, angin dan bahkan Cahaya sinar matahari yang bersinar seakan meneriakkan kata semangat untukku yang bahkan tidak pernah saling menyapa, hanya bisa saling merasakan satu sama lain. Begitulah kekuatan yang kumiliki dari bantuan alam yang tidak pernah Lelah memberikannya tanpa pamrih. Aku sudah cukup merasakan goresan, luka yang tidak terkira dari makhluk Tuhan yang Bernama “Manusia”.  Aku sudah lupa berapa banyak manusia yang memberikan luka yang sampai saat ini belum kutemukan cara mengobati dan menutupnya. Manusia itu dengan gampangnya memberikan harapan dak kekuatan tapi apa yang diberikannya itu tentu meminta imbalan. Mereka akan terus mengusik dan mengganggu jikalau kita tidak memberi seperti apa yang diinginkannya.

    Cahaya matahari terbenam membuatku berhenti diam mematung. Menatap keindahannya, berusaha menyimpan itu melalui mata dan kumasukkan di hatiku terdalam, agar kehangatannya bisa menghangatkan hatiku juga. Sejenak aku berdoa kepada Tuhan yang telah memberikan ku keindahan ini, sambil beberapa kali memujinya. Lamunanku terhenti Ketika aku mengar suara kucing samar-samar di bawah pohon yang jaraknya hamper dekat dengan rumahku. Terkejutnya aku melihat kaki kucing putih jenis Anggora itu bersimbah darah. Ku buka kemejaku lalu ku bungkus tubuh kucing itu sambil berlari masuk ke dalam rumahku. Untung saja kucing itu masih hidup, tapi apa yang harus kuperbuat? Aku bukan dokter hewan. Astaga Han fokuslah bagaimana mengobati kucing itu!

    Kuambil kotak obat sederhanaku mengambil nafas sejenak. Lalu fokus mengobati kucing putih itu. Dengan lembut ku seka lukanya dengan air hangat yang sudah kusiapkan, Gerakan kikukku semoga tidak membuat kucing ini semakin kesakitan. Untungnya saja kucing itu seperti tertidur pulas. Setelah kubalut lukanya dengan plester ku elus kepalanya dengan penuh kasih sayang, sambil tersenyum manis sembari berpikir mengapa ada kucing secantik ini disekitara rumahku? Apa harus kupasang poster kucing hilang, jangan sampai pemiliknya kebingungan mencarinya. Sejenak aku tersadar, mengapa hari ini terasa sedikit berbeda? Kulirik jam dindingku, sudah pukul 10.00 malam. Apa biasanya waktu terasa secepat ini berlalu? Aku duduk sambil menatap kucing yang terlelap dihadapanku, entah mengapa pandanganku tak bisa lepas darinya. Apakah kucing ini penyihir? Ayolah Han umurmu sudah tidak membiarkanmu memikirkan hal-hal konyol sewaktu kecil itu. Kupikir aku sudah benar-benar menjadi kaku. Ternyata aku masih menyisakan sedikit kadar kekonyolan dalam hidupku, ku pindahkan tubuh kucing itu ditempat paling nyaman di rumahku. Ya apalagi kalau bukan kasurku. Baiklah untuk kali ini akan kubiarkan ada orang lain selainku yang menikmati zona ternyaman dalam hidupku. Kudekati kucing putih itu sambil membisikkan “Selamat malam tuan putri, semoga lekas sembuh.” Ucapku pelan sambil mengecup perbannya. Mari lewati malam ini dengan penuh kebahagiaan untuk menyambut apa yang akan tejadi dan menimpa kita besok ucapku pada diriku.

    Aku tidak membutuhkan alarm, karena kicauan burung-burung itu adalah teman paling baik disetiap pagiku. Tanganku sibuk mencari kacamataku, sembari menyisir kamarku pagi itu, tempat terbaik mengisi ulang energiku. Setelah sibuk berberes, mari Bersiap-siap menyambung hidup dengan mencari uang untuk bertahan hidup. Diperjalanan hampir saja aku menabrak seorang gadis bergaun abu-abu dengan rambut cokelat tua yang sedang menyebrang jalan. Kami berdua sama-sama terkejut, hingga membuat gadis itu terjatuh. Segera kuhampiri dirinya yang memegang lututnya sambil meringis kesakitan.

“Maaf saya sedang buru…” kata ku terhenti. Terpukau oleh kecantikan gadis ini. Seperti tidak percaya dengan apa yang kulihat pagi ini. Mengapa juga dadaku bergemuruh dengan hebatnya saat di dekat gadis ini? Wangi rambutnya menyeruak seperti harum beribu bunga. Entah mengapa aku tidak asing dengannya. Segera kusadarkan diriku dan membantunya berdiri dari jalan sambil membantunya duduk. Tangan gadis itu menggengam tanganku erat, jemari tangannya begitu indah sampai aku berpikir tanganku tak cukup untuk digenggamnya.

“Terima kasih.” Ucapnya padaku sambil tersenyum, rambutnya berkibar diterpa angin semakin menambah keindahannya pagi itu. Matanya berwarna biru terang, seperti warna langit yang paling kusuka. Apakah ini adalah bagian rencana Tuhan? Sudahlah aku hanya akan menikmati momen yang seakan tidak nyata.

“Ah… Ka… An… bagaimana aku memanggilnya…” gumamku pelan.

“Katty.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Aku terdiam memandangnya.

“Han.” Ucapku sambil menjabat tanganya. Hari itu kulupakan pekerjaan melelahkan ku itu, sambil mengajak Katty berkeliling kota kecil yang sebenarnya indah bagiku. Begitu banyak tempat bisa dikunjungi dan memanjakan mata. Itulah mengapa aku suka disini.

Hari itu kulanggar serangkaian aktivitas membosankan harianku yang biasa kulakukan sendiri, saat ini Katty gadis cantik yang entah datangnya darimana berada di hadapanku. Mengajakku, mempengaruhiku untuk pergi dengannya. Katty menarik tubuhku kedalam pelukannya. Aku bisa mendengar suara tawanya sambil mengelus punggungku.

“Katty?” tanyaku yang masih terheran dengan keadaan saat ini. Seorang gadis yang baru bertemu memelukku? Apa lagi ini? Apa yang harus kuperbuat?

“Biarkan aku memelukmu. Aku tahu kau sangat membutuhkannya” Ucap Katty mengelus kepalaku dengan lembut. Ucapan sederhana itu masuk kehatiku dan retakannya. Katty melepas pelukannya sambil mengelus pipiku, air mata yang selama ini tidak pernah ku teteskan sekalipun aku berada dititik tersedih hidupku menetes juga dihadapannya dengan deras. Kukepal tanganku dengan penuh kekesalan, aku mengira diriku kuat sekuat baja, ternyata aku tidak lebih lemah dari kaca yang bisa pecah dengan sentuhan kecil, lalu hancur menjadi kepingan yang tidak berbentuk.

Memakai topeng bahagia palsu untuk menutupi kelemahan dan kesedihan itu ternyata sangat buruk terlebih itu sudah kulakukan bertahun-tahun. Aku memeluk Katty kembali dengan sangat erat. Aku tidak peduli apa yang ku peluk ini adalah manusia ataupun bukan, aku hanya akan memeluknya erat seperti saat ini. Katty membalas pelukanku dengan erat seakan menyalurkan semua energi baiknya padaku.

“Kau bisa bersandar padaku. Kapanpun kau mau Han.” Ucap Katty lembut lalu mengecup keningku. Tak terasa waktu yang kami lewati Bersama-sama membuat retakan hatiku perlahan kembali terisi dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan Katty. Hari-hariku yang kemarin terasa hampa mulai berwarna dengan kehadirannya. Kubiarkan semua tentangnya menghiasi semua sudut hatiku, aku hanya akan mengisinya dengan Katty. Setiap sudut rumahku yang dulu hanya untukku sekarang juga sudah kubagi dengan Katty. Katty adalah makhluk Tuhan yang paling baik yang dikirimkan-Nya padaku. Saat Katty terlelap dalam disampingku, kupanjatkan Syukur kepada Tuhan karena masih menyangiku. Kukecup keningnya lembut akan kuhabiskan waktu dengannya sampai akhir hayatku.

            Katty mengajakku masuk ke dalam hutan yang entah mengapa terasa tidak asing bagiku, aku bahkan tidak sadar bahwa hutan ini berada di belakang rumahku. Wajah Katty tertimpa sinar matahari makin menambah kecantikannya sore itu, berjalan bersamaku menyusuri hutan hingga sampai ujung hutan yang menyuguhkan pemandangan seluruh kota. Lagi-lagi Katty membawaku ke dunianya yang sangat tidak nyata. Tapi aku tidak memperdulikan itu aku hanya ingin menikmati ini bersamanya.

    Kami berdua duduk sambil menikmati pemandangan dan perasaan masing-masing. Genggaman tangan yang tidak ingin kulepaskan itu. Katty menyandarkan kepalanya di dadaku.

“Jika suatu saat nanti aku menghilang dari pandaganmu. Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Katty pelan. Pertanyaan itu membuatku tercekat.

“Aku akan mencarimu dibelahan bumi manapun.” Jawabku sambil memeluknya erat. Kami berdua hanya tertawa sambil kembali terdiam dalam pikiran masing-masing.

Diperjalanan pulang Katty bercerita bahwa hutan ini adalah rumahnya, jika hutan ini menghilang atau ada yang menghancurkannya maka dirinya juga akan menghilang. Langkahku terhenti mendengar kata-katanya sambil memandang punggungnya.

“Han… kau harus Bersiap dengan semua keadaan yang terjadi padamu suatu saat nanti.” Jelas Katty sambil menatapnya dengan senyuman yang terasa sedih itu.

“Aku tidak akan membiarkanmu hilang dariku. Aku berjanji.” Ucapku pada Katty sambil mengusap wajahnya. Bagaimana aku bisa membiarkan Katty pergi dari hatiku sementara hanya ada dirinya dalam hatiku. Tapi bukankah ditinggalkan dan meninggalkan itu hal yang wajar dalam kehhidupan kita? Tapi haruskan secepat ini? Dan dari semuanya mengapa harus Katty yang pergi dari hidupku nanti?

            Serasa tidak percaya dengan apa yang kulihat, hutan tempat yang kuhabiskan dengan Katty terbakar hebat. Begitu banyak mobil pemadam kebarakan di sana. Tanpa pikir Panjang aku berlari menuju rumahku pikiranku kacau, hatiku kalut. Han bukan saatnya tenggelam dalam pikiran sendiri, Katty! Aku harus mencari Katty. Ku cari sosok yang sangat kurindukan itu di dalam rumah, kupanggil namanya dengan sekuat tenagaku, tapi tak kutemukan juga sosoknya yang biasanya menyambutku di balik pintu sambil memelukku hangat. Apa yang harus kulakukan, sejenak kupejamkan mata, ku panjatkan doa kepada Tuhan agar mempertemukanku dengan Katty untuk terakhir kalinya, setidaknya biarkan aku mengucapkan salam perpisahan padanya. Tidak kupedulikan suara teriakan dari polisi dan petugas pemadam kebarkaran yang melarangku masuk ke dalam hutan yang sudah penuh dengan kobaran api.

“Katty!... Katty!... Katty! Panggilku berulang kali dengan nada putus asa berlari kesana kemari, menyusuri jalan yang pernah kulalui dengan Katty berlari sampai keujung hutan berharap Katty ada disana menungguku untuk menyelamatkannya. Aku sempat terjatuh, saat aku terjatuh kupandangi langit biru yang tiba-tiba berubah menjadi abu. Air hujan yang turun menyamarkan suara tangisanku yang sudah tidak bisa ditahan lagi, aku hanya berharap Katty yang sudah kusimpan bahkan di retakan hatiku tidak ikut menghilang juga.

    Pandanganku tertuju pada seekor kucing putih jenis Anggora yang tergeletak di hadapanku. Mengapa tiba-tiba ada kucing di sini? Aku segera berlari mendekati kucing itu. Sesaat aku tersadar jika dulu aku pernah menyelamatkan seekor kucing putih apakah itu Katty? Kupeluk tubuh kucing itu erat-erat, mengapa aku tak menyadarinya? Mengapa baru sekarang?

“Katty. . . aku mohon . . . biarkanku melihatmu untuk terakhir kalinya. Biarkan ku ucapkan rasa terima kasihku padamu.” Pintaku sambil menangis, derasnya hujan membasahi hutan seakan meresap masuk kedalam paru-paruku. Apakah Katty juga yang mengirim hujan ini? Maafkan aku yang bahkan tidak bisa menepati janjiku padamu

    Kumasuki rumah, masih tertinggal wangi dan sisa bayangan Katty yang ada disetiap sudut rumahku. Apakah aku sanggup menetap di tempat ini sementara yang mengisi dan menyembuhkan hatikuku sudah tidak ada lagi? Rasanya aku tidak ingin lagi hidup, tapi aku harus tetap hidup sambil membiarkan Katty hidup dalam hatiku kemanapun aku pergi. Hari belum berganti tapi rasa rinduku padanya semakin bertambah, dan bertambah inilah sebabnya ku tak ingin membuat hatiku terisi. Lebih baik semuanya hancur lebur dengan kekosongannya sendiri tanpa terisi. Akhirnya yang tersisa tinggal kenangan yang menghantui dan mengendap selamanya di hati.

Senin, 21 Oktober 2024

Gelap

  

Gelap

Karya : Ynofilicious

    Apa lagi yang harus kulakukan sekarang? Semua keluargaku sudah menyerah dan memilih meninggalkan saudara mereka sendiri? Aku sebagai seorang anak tertua dikeluargaku harus menerima semua ini dan menjalaninya. Bagaimanapun juga dia adalah Ayahku. walaupun sekarang ayah menderita PTSD dan akal sehatnya terganggu akibat kejadian masa lalu yang seakan tidak ingin teringat Kembali, bahkan aku ingin menghilangkan kenangan itu.

      Masa remajaku dihiasi dengan pemandangan yang sangat tidak familiar, yang seharusnya hanya terjadi di film atau drama itu terjadi juga di hidupku. Ruang makan keluargaku penuh dengan darah, diantara darah itu tergeletak tubuh ibu dan adikku yang sangat kusayangi terlihat ayahku dengan baju dan wajah bersimbah darah sedang menangis tersedu-sedu memeluk kedua tubuh yang sudah kaku itu. Aku tercekat, marah, sedih, bingung menjadi satu dalam hatiku. Perlahan kudekati mereka bertiga dengan air mataku yang mengalir tanpa henti. Aku bahkan tidak bisa menangis dengan suara. Seluruh badanku bergetar hebat, bau amis darah menyumbat hidung dan tenggorokkanku meresap ke dalam hati dan pikiranku.

       Beberapa hari yang lalu adik perempuanku menelponku sambil meminta alat lukis sambil mengatakan ‘Aku sayang kakak’ itu Kembali terngiang-ngiang ditelingaku dengan wajah manisnya yang sering tersenyum padaku. Kupukuli dadaku yang terasa sangat sakit berharap sakitnya berpindah di tempat lain, aku masih berharap semua ini mimpi. Aku yang lemah duduk terdiam dilantai melihat pemandangan itu dengan mata lelah, kuusap air mataku berusaha mencerna dengan kesadaran yang hanya sedikit tersisa. Masa remajaku sudah berubah dan tidak akan lagi sama dengan rencanaku yang sudah kutentukan akan menjadi seperti apa. Tuhan benar-benar telah memberikanku rencana yang sangat tidak terduga dan tak bisa kuhindari selama ku menghabiskan umurku.

    Aku berusaha mengisi kekosongan, kehampaan, kesedihan dengan melakukan banyak hal, berharap semuanya akan membaik sejalan umurku bertambah. Nyatanya tidak malah semuanya semakin terasa gelap, sesak, dan menyakitkan. Kini aku si anak sulung, harus menanggung beban kehidupan dan kesedihan ayahku yang menjadi hilang akal dan menderita PTSD gejala yang dialami korban pasca pembunuhan. Masalah hutang piutang yang tiba-tiba muncul entah dari mana hingga membuat kami berdua harus hidup di jalanan karena membayar utang tersebut. Apakah aku harus marah? Tentu aku ingin marah. Tapi pada siapa? Aku bahkan tidak sanggup memaki diriku sendiri. Aku tak mau sampai diriku sendiri tidak punya siapa-siapa di dunia yang sangat kejam ini

    Malam ini aku menatapnya dari luar pintu kamar Rumah sakit jiwa. Menatapnya sambil tersenyum sebaik mungkin, karena ayah sedang menatapku sambil tersenyum. Wajahnya dipenuhi luka sayatan benda tajam. Hatiku sangat hancur begitu mendengar pihak rumah sakit menelponku, karena ayah sedang mencoba bunuh diri menggunakan garpu yang berusaha ia tancapkan pada dadanya sendiri.

    Untung saja aku bergegas ke rumah sakit dan membujuk ayahku, alhasil tanganku pun terluka karena ayah menancapkan garpu tersebut tepat ditangan kananku. Hampir saja aku memaki ayahku saat itu sembari mengatakan, “Apa kau bodoh ayah? Haruskah ayah mati saja?” Tapi dimana ku simpan hati nuraniku sebagai anaknya? Ayah adalah ayah terbaik seumur hidupku dan tidak ada ayah lain selain dia yang paling sempurna untukku, Ibu dan Anne.

    Aku mengusap pundak ayahku dan menenangkannya. Raut wajahnya menyiratkan segalanya. Raut wajah sinis ditujukan padaku itu seakan menusuk jauh masuk kedalam hatiku. Apa ia pikir aku ini adalah si penagih hutang makanya ia menusukku? Sempatnya aku tersenyum dalam keadaan dengan lelucon recehku ini.

“Ayah, ini aku anakmu.” Ucapku lembut. Mendengar suaraku, mata ayahku berubah. Ayahku menjauh dariku sambil mengambil ketakutan mengambil segala sesuatu untuk memukulku.

“Menjauh dariku, dasar pembunuh…. Pembunuuuhhhhh!!!!!!” Teriak ayahku dengan suara yang melengking melempariku dengan bantal dan guling. Apa sebenarnya yang terjadi? Ayahku yang setelah bertahun-tahun tak pernah berbicara, aku kira ayah akan mengingatku walau hanya sebentar. Ternyata kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah menyebutku sebagai seorang pembunuh. Aku segera menghampiri ayahku yang menjadi tidak stabil lagi.

“Ayah, ini aku anakmu. Raf. Apakah ayah tidak mengingatku?” ucapku

“Pembunuh… pembunuh. Kembalikan istriku dan Anne kepadaaakuuuuu!!!!!!” Bentak ayah sambil mengambil kerah leherku.

    Sudah sejak lama aku bisa menatap wajah ayahku sedekat ini. Padahal dulu kami berempat sering sekali bermain dan bercengkrama bersama. Menghabiskan waktu dengan tertawa. Lagi-lagi air mataku mengalir, padahal sudah sekuat tenagaku tahan semuanya dihadapan ayah, aku berusaha sedang berusaha menahan semuanya dengan hati yang sudah tidak utuh lagi.

“Kembalikan merekaaa… kembalikan…” ucap ayah pelan sambil terduduk di kakiku sambil menangis tersedu-sedu. Pandanganku menjadi kabur karena air mataku sendiri. Aku ikut duduk di hadapannya mengusap wajahnya yang penuh luka itu.

    Tiba-tiba tatapan ayah berubah sambil menatapku. Entah apa yang sedang dipikirkan ayah malam itu. Rasa takut menghantuiku, seketika ruang kamar itu berubah menjadi ruang makan keluarga ku. Darah Dimana-mana, tanganku dipenuhi darah. Tubuh ibu dan Anne ada bersama kami tergeletak sama persis pada hari itu. Nafasku sesak, dadaku terasa sakit, keringat mengucur deras membahasi tubuhku.

Ayah tertawa sambil melihatku, yang ketakutan. Tawanya begitu lepas seperti tanpa ada beban. Senyuman itu sangat berbeda saat ayah terseyum padaku dulu. Ayah mengambil pisau kecil dibawah kasurnya diperlihatkan pisau itu padaku. Ayah mendekatiku tanpa ragu.

“Aku harus membunuhmu disini. Mari kita akhiri disini Raf.” Ujar ayahku. Aku tidak percaya apa yang diucapkan ayah. Namaku. Ayah mengucapkan namaku.

“Ayah ingat padaku?”

“Tentu saja. Karna kaulah yang membunuh Ibu dan Adikmu.” Jelas ayah. Nada lirih dan datar itu makin membuat malam terasa panjang. Aku seperti terjebak di dalam ruang sempit dan gelap tak ada Cahaya. Apa yang dikatakan ayah? Padahal bukan aku pelakunya. Aku baru saja pulang kerumah setelah bermain futsal bersama teman-temanku lalu mendapati semuanya sudah terjadi.

     Apakah ingatan itu nyata? Ataukah aku hanya berhalusinasi? Ataukah memang akulah pembunuh ibu dan Anne? Ataukah Ayah… Tanpa pikir panjang ayah langsung menusuk Kembali luka di dadaku. Entah mengapa kali ini terasa sangat sakit dibandingkan pagi tadi. Darah mengucur dari dadaku. Naluri bertahan diriku bangkit ku lepaskan tangan ayah yang menancapkan pisau itu. Entah dari mana kekuatan ayah itu berasal. Tangannya tidak bergeming sama sekali. Ayah hanya tersenyum melihat anak laki-lakinya kesakitan di tangannya sendiri. Nampaknya ayah sangat puas melihat aku kesakitan, sambil memohon untuk dilepaskan. Disisa tenagaku, kuputuskan untuk memakai kekuatanku untuk menyerang ayahku sendiri. Aku memukul jakun ayah dengan sekuat tenaga, sehingga membuat ayah melepaskan tangannya dari pisau yang ditancapkan ke dadaku.

      Aku menangis tersedu-sedu menyadari apa yang terjadi padaku hari itu. Mengapa semua penderitaan ini harus ku alami. Apa yang harus kuperbuat. Apakah aku akan mati disini? Aku berteriak sekuat tenaga, menghampiri ayahku dan menjatuhkannya dilantai. Tentu saja ayah juga melawan sambil mencekik leherku, kupukuli lagi wajah ayah yang luka berulang kali hingga wajahnya berdarah lagi. Lagi-lagi ayah hanya tersenyum melihatku, senyuman itu makin membuatku kesal dan hilang kendali aku sudah tidak ingat lagi tentang bagaimana ayah yang menyanyangi dan menjagaku. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan padamu ayah, apa yang sebenarnya terjadi hari itu, mengapa hanya aku yang tidak tau apa-apa.

“Apa yang terjadi pada ibu dan Anne hari itu ayah?” ayah tidak menjawabku dan hanya tertawa

Aku pasti sudah melakukan dosa terbesarku, apa yang sudah kulakukan sebagai seorang manusia? Bahkan apakah aku pantas menyebut diriku manusia. Ayah tiba-tiba menarik pisau dari dadaku dan menancapkannya kembali. Darah menyembur dari mulutku mengenai wajah ayahku. Pandanganku mulai kabur, entah karena darahku yang semakin habis ataukah aku juga akan mati ditangan ayahku malam ini.

“Kau sudah cukup lama menderita Raf, mari kita akhiri takdir buruk ini.” Ucap ayah ditelingaku mengambil pisau dari dadaku dan menancapkannya kejantungku. Aku tergeletak dengan 5 luka tusukan di dada kanan, dan satu tusukan dijantungku. Disisa kesadaranku aku melihat ayah mengusap wajahku sambil tersenyum. Lalu berbisik. “Ayah sangat menyayangi kalian. Oleh sebab itu biarkan ayah yang menyelamatkan kalian” ucap ayah sambil menangis. Ayah benar aku sudah begitu lama menderita dalam kegelapan ku sendiri. Ku kira aku akan bisa menikmati kehidupan yang lebih baik, ternyata aku tidak cukup baik untuk merasakan itu. Akhirnya aku bisa terlepas dari kegelapanku sendiri, merasakan ketenangan yang luar biasa. Pagi menyambut cahaya matahari menyinari wajahku, kehangatannya seakan-akan bisa masuk menembus kegelapan hati dan hidupku yang bahkan aku tidak tau lagi apakah hidupku akan kembali bercahaya. Tuhan bisakah aku berharap ini semua hanya mimpi?

Langit Biru

Langit Biru Ynofilicious       Hari ini, merupakan hari yang terasa sama saja seperti hari-hariku kemarin. Tidak ada yang berbeda. Roda ...